St. Fransiskus Assisi (1181 /1182 – 3 Oktober 1226)
Paus Innocentius III (1160/1161 – 16 Juli 1216
Paus Honorius III 1150 – 18 Maret 1227)
Paus Gregorius IX (sebelum 1170 – 22 Agustus 1241)
St. Bonaventura (1221 – 15 Juli 1274)
Paus Leo X (11 Desember 1475 – 1 Desember 1521)
Paus Klemens VII (26 Mei 1478 – 25 September 1534)
Catharina Cibo (13 September 1501-17 Februari 1557)
Beato Matteo Bascio (1495-15152)

SEJARAH SINGKAT Lahirnya KAPUSIN

SAUDARA-SAUDARA DINA

Santo Fransiskus dari Assisi memulai Ordo Saudara-saudara Dina pada tanggal 16 April 1209 bersama Saudara Bernardus dari Quintavalle dan Petrus Catanii. Cara hidup Ordo ini tertuang dalam Anggaran Dasar. Anggaran Dasar yang singkat disahkan secara lisan oleh Paus Innocentius III. Anggaran Dasar yang definitif disahkan oleh Paus Honorius III tanggal 23 November 1223. Ordo Saudara-saudara Dina berkembang dengan pesat di Eropa dan juga Timur Tengah. Waktu Fransiskus meninggal dunia tanggal 4 Oktober 1226, jumlah anggota Ordo ada sekitar 5000 saudara, terdiri atas 12/13 provinsi.

TERBENTUKNYA DUA ORDO YANG BERDIKARI

Sesudah Fransiskus wafat, Ordo Saudara-saudara Dina harus belajar hidup tanpa dia. Demi penetapan arah hidup Ordo, Paus Gregorius IX, dalam bulla “quo elongati”, memberikan tafsiran resmi pertama atas Anggaran Dasar yang dibuat oleh Fransiskus. Kuasa tertinggi dalam Ordo tidak lagi dipegang oleh Minister General tetapi oleh Kapitel General. Para saudara semakin memasuki dunia perguruan tinggi teologi dan pemeliharaan rohani umat sebagai pengkhotbah dan bapa rohani. Ordo ini mendapat bentuknya yang lebih tetap pada periode kepemimpinan St. Bonaventura (1257-1274). Pemugaran dan penertiban Ordo diperhatikan, Konstitusi disusun dan kemudian disahkan pada Kapitel General di Narbonne 1260.

Dalam perjalanan sejarah, pemahaman dan penghayatan Anggaran Dasarn dan Konstitusi terarah pada dua kelompok besar: spirituales (ingin kembali kepada hidup miskin seperti Fransiskus) dan conventuales (mulai mendirikan biara-biara karena tuntutan studi teologi demi pelayanan sebagai pengkhotbah dan bapa rohani). 

Situasi global abad keempat (paus tinggal di Avignon [1309-1377], perang seratus tahun di Perancis [1337], wabah sampar hitam [1348-1352], skisma barat [1378-1417]) membuat hidup membiara yang teratur sulit dihayati.

Reaksi atas situasi ini adalah munculnya saudara-saudara observantes di Italia yang bercita-cita tinggi akan kemiskinan. Gerakan-gerakan yang kurang lebih serupa muncul juga di Spanyol, Perancis, dan negara-negara lain. Sejumlah gerakan ini menyatukan diri dalam kelompok “Fratres Regularis Observantes” atau “Saudara-saudara pemelihara Anggaran Dasar”.

Untuk menyiasati perkembangan keanekaragaman gerakan dan golongan dalam Ordo Saudara-saudara Dina ini, pada tahun 1517 diadakan “Kapitel Generalissimum” di Roma untuk membicarakan sperihal kesatuan Ordo. Hasilnya, dalam bulla “Ite et vos in vineam meam” dari Paus Leo X ditetapkan bahwa:

  • Saudara-saudara observantes dan segala gerakan pembaruan yang bercita-cita tinggi akan kemiskinan disatukan menjadi “Ordo Saudara-saudara Dina” di bawah pimpinan Minister General.
  • Para saudara yang tidak tergabung ke dalam kelompok pertama di atas menjadi satu Ordo sendiri yang disebut “Ordo Saudara-saudara Dina Konventuil” di bawah pimpinan seorang Minister General.

Dengan ini terbentuk dua Ordo yang mandiri: Ordo Saudara-saudara Dina (30.000 saudara) dan Ordo Saudara-saudara Dina Konventuil (20.000 saudara).

SITUASI GEREJA 1517 DAN LAHIRNYA KAPUSIN

Gereja Katolik pada awal abad keenambelas sakit dan lemah. Paus, Kardinal, dan Uskup hidup seperti raja dan penguasa duniawi. Pastor paroki, pengkhotbah, dan biarawan-biarawati sibuk mengumpulkan sumbangan dan sering hidup seenaknya saja. Umat beriman tertinggal laksana domba tak bergembala dan hampir tidak tahu apa-apa tentang iman mereka.

Dalam konteks inilah Martin Luther pada tahun 1517 mengangkat suara melawan organisasi Gereja dan penghayatan iman yang lahiriah demikian. Gerakan Luther ini berkembang cukup pesat. Dalam beberapa puluh tahun, dengan bantuan raja Jerman, gerakan Protestan menguasai Jerman Utara, Denmark, dan Skandinavia. Di Swiss muncul Huldrych  Zwingli (1519) dan John Calvin (1536). Di Inggris pada tahun 1531 raja Henry VIII menyatakan diri sebagai kepala Gereja Inggris.

Dalam tubuh Gereja Katolik sendiri, pembaruan sebagai reaksi atas situasi Gereja abad keenambelas ini mengarah pada munculnya sejumlah ordo religius baru: Theatini (1524), Barnabiti (1532), Serikat Yesus (1540), dan Suster Ursulin (1572). Gerakan pembaruan dialami juga oleh ordo-ordo religius lama: Ordo Karmelit (St. Theresia dari Avila dan St. Yohanes dari Salib, 1560), Ordo Saudara-saudara Dina (Kapusin, 1528). Konsili Trente (1545-1564) adalah jawaban Gereja atas reformasi dan gerakan pembaruan pada abad ini dengan memfokuskan diri pada pembaruan segenap hidup Gereja dan pembahasan segenap ajaran iman Katolik.

KAPUSIN

Mattheus dari Bascio masuk Ordo Saudara-saudara Dina (Observantes) di provinsi Marche tahun 1510. Setelah ikut merawat korban-korban penyakit menular di Camerino tahun 1522, tumbuh niat dalam dirinya untuk menepati Anggaran Dasar St. Fransiskus sepenuh-penuhnya. Untuk ini, awal tahun 1525, Mattheus pergi ke Roma minta izin dari Bapa Suci. Secara lisan Paus Clemens VII mengizinkan Mattheus menepatai Anggaran Dasar sepenuh-penuhnya, memakai jubah dengan kap panjang, dan mewartakan Injil ke mana-mana. Hanya sekali setahun dia harus menghadap Provinsialnya di Marche. Banyak pihak yang tidak setuju dengan Mattheus termasuk Provinsialnya, Yohanes dari Fano. Mattheus kemudian disuruh tinggal di suatu biara pertapaan kecil dan dilarang keluar rumah. Atas bantuan Catharina Cibo, kemenakan Paus Clemens VII, Mattheus diizinkan pergi ke Camerino, bulan Juli 1525, tempat Mattheus merawat orang-orang sakit tiga tahun sebelumnya.

Cara hidup Mattheus menjadi perbincangan di Provinsi Marche. Ludovicus dari Fossombrone meninggalkan biaranya (Observantes) dan bersama saudara kandungnya, Rafael, bergabung dengan Mattheus. Proses dan cara hidup para pembaru ini mendapat tantangan berat. Mereka diekskomunikasi pada bulan Maret 1526 dan wajib kembali ke biara masing-masing. Ludovicus pergi ke Roma pada bulan Mei 1526 untuk memohon dan kemudian mendapatkan surat dari departemen Poenitentiaria yang mengizinkan mereka menempuh hidup bertapa seturut Anggaran Dasar St. Fransiskus. Paulus dari Chioggia, seorang pertapa yang sebelumnya juga anggota Observantes, bergabung dengan Mattheus dan teman-temannya.  Saudara-saudara Observantes lain juga menggabungkan diri dengan mereka.

Bulan Mei 1527, tentara Jerman menyerang Roma. Paus Clemens VII luput dari serangan dan tinggal di Viterbo. Bulan Agustus 1527, Pangeran Camerino (suami Chatarina Cibo) meninggal dunia. Bulan Juni 1527, Catharina Cibo pergi ke Viterbo menjumpai pamannya, Paus Clemens VII, untuk membicarakan masalah politik.  Ludovicus ikut ke Viterbo untuk menyampaikan permohonan kepada Paus. Ludovicus mendapat jawaban lewat bulla “Religionis Zelus” tertanggal 3 Juli 1528. Dengan ini Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin secara resmi diakui dan didirikan. Dalam bulla tersebut mereka diizinkan untuk hidup sebagai pertapa menurut Anggaran Dasar St. Fransiskus, memakai jubah dengan kap panjang, memelihara jenggot, dan menerima saudara (rohaniwan dan awam).

(Sumber: Sejarah Ordo Saudara-Saudara Dina Kapusin 1525-1990 [Parapat, 1990])